Bali in my version (part4)

Hari kelima, 22 April 2010, hari ketiga di Bali

Hari terakhir bermain di Bali. Karena rencana belanja pada hari sebelumnya dibatalkan, maka rencana hari terakhir hanya belanja. Ada dua tujuan tempat belanja, yakni Joger dan Pasar Sukowati.

Seperti perjalanan sebelumnya, Kuta, perjalanan ke Joger harus disambung dengan menggunakan bus kecil karena jalanan ke Joger tidak dapat dilalui bus ukuran besar. Dengan semangat belanja yang menggebu bagi sebagian orang (tidak bagi saya) kita berangkat menuju tempat penyedia bus kecil (pengumpan) pada pukul 8an kalo ga salah. Dua bus ukuran sedang digunakan untuk mengangkut kami semua menuju pabrik kata-kata Joger. Sayang sekali, sesampainya di sana toko masih tutup. Emang dasarnya bocah-bocah belum pernah ke Bali, langsung poto-poto lagi. Dinding yang yang bertuliskan kata-kata khas Joger jadi ‘korban’ keberingasan berpoto anak-anak ilkom. Ada kata-kata yang paling menarik buat saya di sana, ‘berbuat baik itu baik tapi terlalu baik jadi tidak baik’ (kurang lebih begitu bunyinya). Kata-kata yang sering saya gunakan dan saya ajarkan ke salah seorang teman saya (dia pasti nyadar) biar ga gampang terpengaruh.

Alkisah di depan Joger terdapat toko yang menjual pernak-pernik Bali juga, tanpa pikir panjang beberapa orang dari kita datang ke sana untuk berbelanja sedikit oleh-oleh. Sekitar satu jam di depan Joger yang masih tutup, panitia memutuskan untuk mengganti tujuan ke Pasar Sukowati. Sama persis seperti berangkat, dengan bus pengumpan kita kembali ke bus besar untuk melanjutkan perjalanan ke Sukowati.

Pasar tradisional Sukowati merupakan tempat untuk mencari untung besar bagi penjual dan merupakan tempat untuk mencari barang murah bagi pembeli. Di pasar ini penjual member harga awal yang sangat tinggi, sampai 3 kali harga normal. Beruntung kita dapat tour guide handal  dan supir pengalaman selama di Bali. Trik dagang seperti ini telah kita ketahui sebelumnya, jadi bukan merupakan hal terlalu sulit dalam menawar barang di pasar ini. Selama di pasar ini saya hanya membeli 3 gelang dengan harga 25000 dan 1 jepit rambut seharga 5000 (harga awal gelang @25000 dan jepit @15000). Kalau saya hanya dapat itu tapi teman-teman yang lain mendapatkan lebih banyak barang yang entah akan digunakan kapan.

Usai sudah perjalanan di Bali. Setelah Sukowati selesai maka selesai semua. Kita berangkat menuju Bogor tercinta.

Ada sedikit masalah yang kami hadapi ketika hendak pulang ke Pulau Jawa, yaitu sholat. Saya jadi tempat bertanya tentang rencana shalat zuhur dan ashar pada perjalanan menuju pelabuhan ini. Akhirnya kami bersepakat untuk shalat di kendaraan ketika shalat zuhur dengan tayamum (ya Allah ampuni jika kami salah). Selain masalah shalat ada masalah makanan juga yang saya pikir cukup merepotkan. Saya kasihan sekali melihat temen-temen pada kelaparan karena belum makan selama perjalanan dari Sukowati menuju pelabuhan. Ada yang sudah muntah-muntah malah. Akhirnya makanan bisa disantap di bus dalam menjelang tiba di pelabuhan.

Agak berbeda ketika perjalanan pulang dengan kapal ferry bila dibandingkan dengan perjalanan pergi. Yaitu cuaca dan peraturan yang melarang penumpang naik ke atas dek kapal. Jadi kami hanya ngerumpi di dek sambil melihat testimony milik anak lain. Selagi di kapal ini kami melakukan shalat ashar. Kami benar-benar dibuat bingung dalam menentukan arah kiblat, padahal sudah ada petunjuk yang tertulis. Berikut saya tuliskan bunyi dari petunjuk yang ada, ‘ bila kapal berangkat dari Gilimanuk, kiblat mengarah ke kanan lambung kapal’. Yang membuat kami bingung adalah ketidaktahuan kami tentang kapal (bagian depannya tuh sebelah mana sih???). Oh iya, ketika hendak masuk ke dalam kapal kita melihat ada bocah yang kira-kira berusia 10 tahun meloncat ke laut dari ketinggian sekitar 5-10 meter, wow…

Perjalanan dilanjutkan dengan bus dari pelabuhan di Jawa Timur(apa ya namanya???).  Tapi selama perjalanan di Jawa Timur kita tidak terlalu banyak bertingkah (mungkin efek dari kelaparan di siang hari).

Perjalanan pulang hari kedua di bus. Selama perjalanan banyak kejadian edan terjadi di bus. Kalau yang saya alami adalah serangan ‘mematikan’ yang tidak sampai ‘membunuh’ saya di dalam bus. Selagi di bus pun saya juga dengan sangat sotoy (harus ngaku) berlagak seperti pembawa berita gossip sambil membacakan testimoni milik beberapa anak (Sri, Inez, Aziza, dan Yuli). Testimoni saya dibacakan oleh Ziza. Pokoknya gebleg dah selama pembacaan testimoni-testimoni ini. Kering  banget tenggorokan. Di perjalanan pulang hari kedua ini kita berhenti di masjid untuk shalat subuh (jem 5.30an, edan), berenti makan pagi, makan siang (modal sendiri), dan berhenti untuk wisata toilet.

Perjalanan pun berakhir setelah melewati hampir 40 jam di dalam bus. Melewati jalur selatan kita lewat Bandung dan Puncak. Serem juga lewat situ pake bus segede gaban. Sekitar pukul 1 pagi Sabtu dini hari, bus sampai di depan Bara. Senang rasanya menjejak tanah. Dengan bawaan masing-masing yang banyak kita berjalan di malam hari untuk pulang ke kosan masing-masing.

Akhirnya mereka hidup bahagia untuk sementara.

Alhamdulillah.

Author: aadunjuve

Irawan semoga jadi orangtua sholeh

3 thoughts on “Bali in my version (part4)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s