Mei Menjelang

Bismillah, alhamdulillah..sudah lama ga nulis tapi ga ada ide tulisan bagus, curcol aja deh..

insyaa Allah, tanggal 8 Mei 2016 (undangan buat yang liat) suatu fase baru dalam hidup saya.. Saya akan memiliki keluarga kecil dimulai dengan hidup bersama istri..ya Allah mudahkan urusan kami berdua..

hari ini saya sedang sepi pekerjaan, lalu saya berkunjung ke email yahoo.. ternyata notifikasi ke blog masih ada, komentar dari para pengunjung blog.. gara-gara itu saya jadi iseng pengen nulis ini..

sekilas tentang calon saya, kenapa saya kok milih dia? selain faktor witing tresno jalaran soko kulino, saya merasa ya dia tepat untuk saya (insyaa Allah).. tapi ada faktor yang (wallahua’lam) saya yakin itu ada pada diri dia, yaitu keinginan untuk menjadi lebih baik (sholihah) dan rasa kasih sayang.. dia memang wanita biasa, sama seperti saya lelaki yang biasa (banget malah) tapi beberapa hal yang tidak tampak itu malah bikin saya memilih dia..

ternyata, sudah beberapa tahun lebih saya jatuh hati sama dia.. berawal dari sering ketemu dan saling meminta tolong doang hingga akhirnya datang tanggal 31 Januari 2016, salah satu hari paling berkesan dalam hidup saya, saya melamar (minta dilamarin) dia..

banyak hal udah terjadi (semoga Allah mengampuni kami) hingga kami bisa menetapkan tanggal tersebut..pokoknya banyak deh..

udah ah gini, aja..doa kifaratul majlis: subhanaka Allahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilayhi..

Advertisements

Kuliah yang hampir gagal dan akhirnya LULUS

Bismillah

Saya ingin bercerita mengenai perjalanan kuliah dulu. Mungkin dengan tulisan ini saya bisa bersyukur atas segala rahmat yang Allah berikan dan menjadi pengingat bagi saya pribadi agar lebih gigih ketika menghadapi masalah. Saya juga berharap ini bisa bermanfaat bagi orang lain yang mungkin menghadapi masalah yang mirip, sehingga kesulitan saya ada ‘manfaatnya’ untuk orang lain.

Cerita ini tentu berawal dari masuknya saya ke kampus hijau, IPB. Di kampus ini saya memulai dan mengakhiri kuliah sarjana saya. Kuliah yang bisa dibilang berlangsung panjang karena saya perlu menempuh 7 tahun untuk bisa menyelesaikan kuliah saya.

Semester 1 tingkat persiapan bersama. Tingkat ini bisa saya selesaikan dengan cukup baik, alhamdulillah. Walaupun nilai yang didapatkan tergolong biasa saja. Semester 1, aman.

Semester 2 tingkat persiapan bersama. Tingkat ini bisa dibilang aman juga, bahkan sedikit lebih baik dari semester 1.

Jeda sebelum masuk ke departemen pilihan. Di masa ini saya ‘berhasil’ masuk departemen Ilmu Komputer. Departemen yang tergolong favorit di angkatan sebelumnya, yakni 42 (saya angkatan 43). Ketika saya sedang kumpul bersama teman-teman TPB dan kami saling berbagi cerita mengenai departemen yang kami dapatkan, akhirnya mereka semua tahu saya masuk ILKOM. Taraaaa… Semua gempar dan ada seorang teman saya yang setengah meledek memberikan julukan “il phenomenon” untuk saya. Sang fenomena, begitulah artinya (sialan).

Semester 3 ilkom. Semester ini adalah salah satu dari fase tersulit yang saya hadapi ketika kuliah. Semester ini saya benar-benar kepayahan untuk mengikuti materi kuliah. Akhirnya, dengan segala kepayahan yang saya tempuh, semester ini pun berakhir dengan sangat mengecewakan. Nilai saya jatuh sangat dalam. Saya menduga ini terjadi karena ketidaksiapan saya dan kurangnya usaha saya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

Semester 4 yang masih menyedihkan. Saya mulai punya beberapa teman yang bisa diajak untuk belajar bersama. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa mengikuti. Sayangnya, masih terlalu sedikit saya bisa mengikuti materi yang ada. Nilai di semester ini pun masih hancur. Transkrip nilai yang saya terima pun kini bertambah informasi, yaitu PERINGATAN KERAS (di semester sebelumnya saya sudah dapat PERINGATAN).

Semester 5 yang membaik. Alhamdulillah di semester ini saya cukup bisa mengikuti materi kuliah. Nilai saya menjadi jauh lebih baik daripada semester 3 dan 4. Namun, nilai di semester ini belum cukup untuk mengubah status PERINGATAN KERAS yang saya dapat sebelumnya. Saya masih bisa sedikit bersyukur dan bernapas lega karena masih bisa melanjutkan kuliah. Omong-omong, mungkin ini juga dipengaruhi oleh jumlah teman yang saya kenal juga sehingga saya bisa banyak mengambil manfaat dari mereka.

Semester 6 yang masih baik. Nilai yang sedikit lebih baik di semester ini membuat saya kembali bisa bernapas lega. Usaha keras saya terbayar di semester ini. Nilai secara keseluruhan (IPK) terkerek naik. Sayang seribu sayang, status PERINGATAN KERAS masih muncul. Walaupun status itu masih muncul, saya masih optimis ketika itu karena melihat peningkatan nilai keseluruhan.

Semester 7 menjadi awal kelam. Semester ini saya memasukkan beberapa mata kuliah ulangan karena di semester sebelumnya saya mendapatkan nilai yang buruk. Mata kuliah Temu Kembali Informasi menjadi mimpi buruk di semester ini. Sebelumnya, saya memperkirakan jika di semester ini nilai saya masih masuk kategori aman. Qadarallah wa maa syaa’ a fa’ala, saya mendapatkan nilai E di mata kuliah ini. Ketika masih di semester 7, saya belum menyadari dampak dari nilai E di mata kuliah ini hingga akhirnya datang semester 8.

Semester 8 yang masih agak normal. Semester ini saya mengulang beberapa mata kuliah yang sebelumnya juga mendapatkan nilai kurang baik. Alhamdulillah di semester ini saya mendapat nilai yang cukup baik dan bisa terus melanjutkan kuliah.

Semester 9 yang membuat sedikit frustasi. Awal kebingungan saya muncul ketika mengisi Kartu Rencana Studi atau KRS. Ketika hendak mengisi KRS, saya mendapatkan keterangan yang cukup pahit untuk bisa ditelan ketika itu “Tidak bisa mengisi KRS karena status DO”. Astaghfirullah, saya benar-benar kaget ketika itu. Saya tidak tahu sebabnya tapi saya masih punya sedikit rasa optimis. Saya putuskan berangkat ke kantor pengaduan masalah KRS. Di sana saya dijelaskan sebab terhalangnya saya mengisi KRS. Ternyata, satu nilai dari materi kuliah di semester 7 ada yang dapat E dan berimbas pada nilai saya di semester 7. Kok semester 7??? Jadi seharusnya saya sudah ditendang dari kampus sejak semester 7 berakhir. Lalu kenapa saya bisa lulus saat ini??? Mungkin saya patut untuk bersyukur dengan sangat karena kesalahan sistem membuat saya bisa terus kuliah.

Semester 10 sebagai awalan dari sebagian. Kesalahan sistem di semester sebelumnya membuat saya harus menandatangani surat pernyataan khusus yang terdapat syarat yang harus dilakukan dan dampak yang mungkin saya terima jika tidak berhasil memenuhi syarat. Alhamdulillah di semester ini saya bisa mendapatkan nilai yang baik dan memenuhi syarat yang telah ditetapkan sehingga tidak terkena dampak jika gagal memenuhi syarat. Selain faktor nilai yang baik juga, saya telah memperkirakan jika terjadi hal yang sangat buruk di semester 10 saya tetap bisa meneruskan kuliah sampai selesai karena IPK yang sudah tidak mungkin turun, mengingat semua mata kuliah telah saya ambil (walaupun hasilnya kurang baik).

Semester 11 yang agak padat. Semester ini saya mengulang beberapa mata kuliah bersama beberapa orang teman yang mengalami nasib serupa, yaitu nilai kurang di mata kuliah tersebut. Kembali mengisi surat pernyataan agar bisa mengisi KRS karena KRS secara otomatis tertutup dengan status DO yang sudah diceritakan sebelumnya.

Semester 12 mulai sepi. Jika tidak salah ingat, di semester ini saya sengaja tidak mengikuti mata kuliah tugas akhir karena hampir tidak mungkin diselesaikan di semester ini (faktor SPP lebih utama sebenarnya). Semester selesai dengan damai dan IPK naik lagi.

Semester 13 sebagai awal tahun terakhir. Dimulai di sini. Tahun ke-7 menjadi tahun terakhir bagi kami yang belum lulus. Sebanyak 10-15 mahasiswa yang belum menyelesaikan studi mendapat surat ‘cinta’ dari departemen mengenai keterlambatan lulus ini. Semester ini saya mulai agak sering menemui dosen pembimbing untuk memberikan inspirasi dalam pengerjaan skripsi. Bersama Hamidah, Rendy, Dede, Ade, Erri, Antoni dan seorang mata-mata dari departemen matematika yaitu Faisal kami mengarungi (halah) semester ini. Tak lupa juga mengisi KRS dengan surat pernyataan sebelumnya.

Semester 14 yang jadi pamungkas. Satu persatu teman-teman mulai ‘berguguran’ alias lulus. Hamidah jadi yang pertama karena bisa dibilang dia yang paling mengalami kemajuan dan sudah mencicil di semester sebelumnya. Setelah itu Ade, Rendy, Dede, Antoni dan akhirnya saya pun berhasil lolos. Setelah saya baru kemudian Erri dan Faisal menyusul. Alhamdulillah kita semua berhasil lulus. Semester ini sangat terasa tolong menolong di antara kita semua, saling menitipkan, memberikan informasi, dll jadi sebuah kebiasaan dan tidak ada yang keberatan dengan itu (alhamdulillah). Tentu peran Windu tidak boleh saya lupakan, dia benar-benar membantu saya untuk bisa lulus. Terima kasih atas bantuan kalian semua.

Penutup. Saya sangat bersyukur bisa lulus walaupun dengan sedikit ‘bantuan’ dari sistem. Saya juga ingin sekali mengatakan sesuatu kepada mahasiswa lain yang sudah lulus lebih dulu dari temannya, “Jangan cuma bertanya tentang kelulusan seseorang apalagi sampai meledeknya karena mungkin teman kita punya masalah dan butuh solusi. Setidaknya, berikan dia dorongan moral dengan doa atau yang lainnya.”. Alhamdulillah, semoga cerita ini ada secuil manfaat bagi yang kebetulan membacanya. Saya berharap, setelah lulus dari ILKOM IPB saya bisa memberikan manfaat dalam bidang yang saya masuki (insyaa Allah).

Sekolah dan Pendidikan yang mungkin Ideal

Bismillah

Ini adalah tahun ke-3 saya menjadi seorang pengajar atau pendidik or you can call it teacher or guru. Di tahun ke-3 ini saya turun kelas menjadi pengajar tingkat SD. Tingkat kelas boleh turun tapi dampak yang saya berikan bagi kehidupan anak-anak itu kelak malah lebih tinggi.

Banyak hal menarik yang telah terjadi dan mungkin akan terjadi nanti tapi saya menulis kali ini bukan untuk bercerita tentang beberapa kejadian menarik tersebut. Tulisan saya kali ini merupakan bentuk persetujuan terhadap pernyataan kawan saya yang menjadi kepala sekolah di sini, Ponpes Aladzievie (apa adanya).

Pertama kali saya datang ke sini, yang pertama ditanyakan ketika proses wawancara adalah ayna Allah (di mana Allah)? Alhamdulillah saya pernah mendengar beberapa pembahasan mengenai ini sehingga saya bisa menjawabnya. Setelah pertanyaan ini saya ditanya beberapa hal lain yang berhubungan dengan agama yang telah Allah muliakan ini. Setelah beberapa waktu, saya akhirnya paham kenapa pertanyaan ini begitu penting. Bagaimana seorang guru akan mengajarkan muridnya mengenai Allah jika dia tidak mengenal Allah? Tentu saja itu cuma akan menyesatkan murid-muridnya.

Waktu pun berjalan. Setiap penerimaan siswa baru, orangtua selalu ditanyakan bagaimana kesiapannya apabila anak tidak memeroleh ijazah normal kelak? Ya, karena ijazah yang akan mereka dapatkan kelak adalah ijazah paket A. Kepsek ini pun selalu berkata begini pada para orangtua murid, “Kita yakin kalau Allah yang memberi rejeki pada kita, lalu kenapa kita mesti takut apabila tidak memiliki ijazah yang normal?”. Sering sekali kita bilang rejeki dari Allah tapi ketika tak punya ijazah seakan rejeki akan terputus tanpanya lalu dikemanakan pernyataan kita sebelumnya?

Ada 1 hal yang paling menarik dari konsep yang dibuat untuk sekolah ini, yaitu membuang pelajaran yang tidak dibutuhkan. Mari kita pikirkan sejenak, apa manfaat belajar PKn, IPS, Bahasa Inggris, Komputer, Kertangkes, Olahraga, Bahasa sunda, dll bagi anak usia SD? Apa kita tidak kasihan dengan mereka yang mesti berpayah-payah menghapalkan semua isi pelajaran tersebut dan kemungkinan besar tidak akan dipakai kelak oleh mereka? Mungkin ada anak jenius yang bisa menerima itu semua dan memahaminya tapi apakah anak jenius di dalam sebuah kelas adalah 100% atau semua anak jenius? Nah, oleh karena itu di sekolah ini hanya diajarkan pelajaran 3 mata pelajaran umum yang penting bagi kehidupan yang sesuai dengan umur mereka, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA (opsional).

Selain konsep membuang yang tidak perlu, sekolah ini juga ingin menekankan pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Banyak orangtua yang tidak adil. Ya, tidak adil karena mereka ingin anaknya bisa ini, itu, anu tapi orangtua mereka tidak berusaha untuk bisa ini, itu, dan anu juga. Maka, hendaknya orangtua juga berkaca dan tidak meminta banyak hal tapi mereka lupa untuk memberi banyak hal bagi pendidikan anak-anak mereka.

Oleh karena itu, pendidikan jelas bukan sekedar guru bisa mengajarkan murid untuk menguasai suatu pelajaran tapi juga peran orangtua untuk menguasai pelajaran yang diterima oleh anak-anak mereka dan membangkitkan rasa ingin terus belajar dari anak-anak mereka.

wallahu a’lam