Sekolah dan Pendidikan yang mungkin Ideal

logo SD

Bismillah

Ini adalah tahun ke-3 saya menjadi seorang pengajar atau pendidik or you can call it teacher or guru. Di tahun ke-3 ini saya turun kelas menjadi pengajar tingkat SD. Tingkat kelas boleh turun tapi dampak yang saya berikan bagi kehidupan anak-anak itu kelak malah lebih tinggi.

Banyak hal menarik yang telah terjadi dan mungkin akan terjadi nanti tapi saya menulis kali ini bukan untuk bercerita tentang beberapa kejadian menarik tersebut. Tulisan saya kali ini merupakan bentuk persetujuan terhadap pernyataan kawan saya yang menjadi kepala sekolah di sini, Ponpes Aladzievie (apa adanya).

Pertama kali saya datang ke sini, yang pertama ditanyakan ketika proses wawancara adalah ayna Allah (di mana Allah)? Alhamdulillah saya pernah mendengar beberapa pembahasan mengenai ini sehingga saya bisa menjawabnya. Setelah pertanyaan ini saya ditanya beberapa hal lain yang berhubungan dengan agama yang telah Allah muliakan ini. Setelah beberapa waktu, saya akhirnya paham kenapa pertanyaan ini begitu penting. Bagaimana seorang guru akan mengajarkan muridnya mengenai Allah jika dia tidak mengenal Allah? Tentu saja itu cuma akan menyesatkan murid-muridnya.

Waktu pun berjalan. Setiap penerimaan siswa baru, orangtua selalu ditanyakan bagaimana kesiapannya apabila anak tidak memeroleh ijazah normal kelak? Ya, karena ijazah yang akan mereka dapatkan kelak adalah ijazah paket A. Kepsek ini pun selalu berkata begini pada para orangtua murid, “Kita yakin kalau Allah yang memberi rejeki pada kita, lalu kenapa kita mesti takut apabila tidak memiliki ijazah yang normal?”. Sering sekali kita bilang rejeki dari Allah tapi ketika tak punya ijazah seakan rejeki akan terputus tanpanya lalu dikemanakan pernyataan kita sebelumnya?

Ada 1 hal yang paling menarik dari konsep yang dibuat untuk sekolah ini, yaitu membuang pelajaran yang tidak dibutuhkan. Mari kita pikirkan sejenak, apa manfaat belajar PKn, IPS, Bahasa Inggris, Komputer, Kertangkes, Olahraga, Bahasa sunda, dll bagi anak usia SD? Apa kita tidak kasihan dengan mereka yang mesti berpayah-payah menghapalkan semua isi pelajaran tersebut dan kemungkinan besar tidak akan dipakai kelak oleh mereka? Mungkin ada anak jenius yang bisa menerima itu semua dan memahaminya tapi apakah anak jenius di dalam sebuah kelas adalah 100% atau semua anak jenius? Nah, oleh karena itu di sekolah ini hanya diajarkan pelajaran 3 mata pelajaran umum yang penting bagi kehidupan yang sesuai dengan umur mereka, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA (opsional).

Selain konsep membuang yang tidak perlu, sekolah ini juga ingin menekankan pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Banyak orangtua yang tidak adil. Ya, tidak adil karena mereka ingin anaknya bisa ini, itu, anu tapi orangtua mereka tidak berusaha untuk bisa ini, itu, dan anu juga. Maka, hendaknya orangtua juga berkaca dan tidak meminta banyak hal tapi mereka lupa untuk memberi banyak hal bagi pendidikan anak-anak mereka.

Oleh karena itu, pendidikan jelas bukan sekedar guru bisa mengajarkan murid untuk menguasai suatu pelajaran tapi juga peran orangtua untuk menguasai pelajaran yang diterima oleh anak-anak mereka dan membangkitkan rasa ingin terus belajar dari anak-anak mereka.

wallahu a’lam

Author: aadunjuve

Irawan semoga jadi orangtua sholeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s